Kultwit Takdir Dari Anis Matta (5)

Yang harus kita jaga agar takdir baik berpihak pada kita adalah konsistensi pada kebenaran. Walaupun kita akan tampak lugu dan naif. Ini permainannya!

Start :

Orang berakal itu, kata ulama kita, adalah yang paling banyak memikirkan akibat dari semua kata dan tindakannya. Itu karena mereka percaya pengaturanNya.

Jika terkepung dalam perang kita harus cari tempat berlindung yang lebih tinggi. Tapi Allah justru menyuruh Nabi Musa ke tepi laut saat dikejar Fir’aun? Nabi Musa mengikuti perintah itu. Dan Fir’aun makin bernafsu. Ia yakin pasti dapat mangsa yg empuk. Laut merah akan jadi saksi pembantaian. Nabi Musa pasti tampak lugu dan naif di mata Fir’aun. Tapi ini pengaturan Allah yang tidak disadari Fir’aun. Dia pikir dia hebat dan perkasa.

Yang harus kita jaga agar takdir baik berpihak pada kita adalah konsistensi pada kebenaran. Walaupun kita akan tampak lugu dan naif. Ini permainannya!

Saat Fir’aun tiba di tepi laut merah. Nabi Musa dan kaumnya sudah ada di seberang laut. Karena laut terbelah. Fir’aun tidak bertanya lagi kok bisa? Tak ada lagi pertanyaan dalam benak Fir’aun tentang arti laut terbelah. Apalagi kecurigaan bahwa itu akan jadi jebakan. Jadi mereka kejar mangsa pnuh nafsu. Laut merah itulah yang menutup riwayat keangkuhan Fir’aun. Permulaan yang tampak naif berujung dengan tragedi yg dahsyat. Itulah pengaturan Allah.

Jika saja Fir’aun berangkat lebih pagi mengejar Nabi Musa dan kaumnya, mungkin mereka bisa menangkapnya sebelum sampai ke seberang laut. Tapi mereka telat. Tahu kenapa mereka telat? Karena pagi itu ayam berkokok setelah matahari terbit. Jadi Fir’aun dan pasukannya kesiangan. Jadwal ayam berkokok merubah sejarah.

Hanya satu makhluk dari seluruh penghuni alam raya ini yang digunakan Allah utk mengubah jalannya sejarah. Hanya ayam. Itupun cuma jadwal berkokoknya. Seluruh makhluk di alam raya ini adalah pasukanNya yang tunduk pada perintahNya. Itu yang tidak bisa dikendalikan manusia. Tapi itu juga tidak disadarinya. Semua sumber daya itu membuatNya Maha Mampu melakukan apa saja yang Ia mau, mengeksekusi rencanaNya. Itulah Al Qudroh, kemampuan yang tidak terbatas.

Ayat2 tentang takdir ini paling banyak diturunkan pada konteks politik dan kekuasaan, karena dalam pergulatan itulah iman kita pada takdir paling banyak diuji. Dalam pertempuran dan pertarungan politik iman kita pada takdir paling banyak diuji, krn dalam kondisi itu kita gampang labil dan tergoncang secara batin. Itu sebabnya banyak tentara yang pergi cari jimat sblm bertempur. Atau penguasa cari dukun untuk memastikan kesinambungan kekuasaannya.

Tentara dan penguasa terlibat dalam banyak pertempuran dan konflik. Hidup dalam ketidakpastian dan goncangan tanpa henti. Mereka mudah jadi rapuh. Tentara dan penguasa butuh sandaran spiritual lebih besar dan kokoh. Sayangnya mereka sering mencarinya di luar Allah. Bekerja dalam dunia politik tanpa iman yg kokoh pada takdir membuat kita labil dan rapuh, mudah mengalami disorientasi dan tersesat di tengah jalan!

Musa berkata kepada kaumnya: “Mintalah pertolongan dari Allah dan bersabarlah, sungguh Dia akan wariskan bumi ini kepada hamba yang dikehendakiNya”. Diantara Fir’aun dan Musa, Allah memberlakukan takdirNya: shifting of power. Itulah pengaturannya. Terlalu halus memang. Dan tak terbaca. Iman pada takdir membuahkan keyakinan yang kokoh dan kesabaran yg panjang. Itulah kunci dari karakter para pemenang: keyakinan dan kesabaran.