Kultwit Takdir Dari Anis Matta (4)

Saat berkumpul di ujung cerita yang indah, Ya’qub mengulangi lagi :”Kan sudah aku katakan pada kalian bahwa aku tahu dari Allah apa yang tidak kalian tahu”Start :

Semua ketetapan Allah yang didasarkan pada ilmu dan kemampuan, kasih sayang dan keadilan diturunkan sebagai takdir melalui pengaturan (tadbir). Makanya Allah disebut sebagai Al Mudabbir atau yang mengatur dan merencanakan detil2 kehidupan manusia. Hidup kita berjalan dlm skenarioNya.

Seperti dalam kisah Nabi Yusuf. Tak satupun dari mereka yang terlibat dalam jalinan kisah itu yg tahu akhir cerita itu kelak. Plotnya kemana? Mereka semua hanya bergerak dengan sebuah kesadaran yang konstan akan kehendak baik Allah. Mereka tidak tahu ujung ceritanya. Tapi mereka yakin pasti baik.

Di puncak kesedihannya Ya’qub hanya berkata, “Saya hanya mengadukan keluh dan sedihku kepada Allah”. Ia pasrah karena ia yakin dengan ujungnya.

Saudara-saudara Nabi Yusuf yg berkonspirasi menjeblosnya kedalam sumur tidak sadar bahwa mereka hanya menjebak diri mereka sendiri. Mereka pikir mereka cerdas. Padahal saat berada dalam sumur, Allah meyakinkan Nabi Yusuf  bahwa kelak dia ceritakan urusan ini kepada saudara-saudaranya. Mereka cuma tidak sadar saja saat itu.

Jadi ketika mendengar cerita anak-anaknya tentang Nabi Yusuf yang sudah dimangsa serigala, Ya’qub berkata kalian pikir konspirasi ini baik bagi kalian? Nabi Ya’qub menyabar-nyabarkan dirinya. kesabaran yg indah katanya. Dan hanya Allah yang dimohon pertolonganNya atas apa yg kalian ceritakan.

Nabi Ya’qub menjalani pengaturan Allah ini dengan sabar dan penuh keyakinan, sebab Allah telah mengajarkan ini padanya dengan caraNya sendiri. “Dan sesungguhnya dia (Ya’qub) mempunyai pengetahuan karena Kami telah mengajarkan kepadanya, tapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS:Yusuf:68). Jadi Nabi Ya’qub selalu berkata kepada anak-anaknya “Aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tiada mengetahui” ia tahu ini pengaturan Allah.

Apa Ya’qub tahu jalan ceritanya secara detil? Mungkin tidak juga. Tapi dia tahu ujungnya pasti baik. Jadi dia hanya menjaga agar sikapnya tetap benar. Saat berkumpul di ujung cerita yang indah, Ya’qub mengulangi lagi :”Kan sudah aku katakan pada kalian bahwa aku tahu dari Allah apa yang tidak kalian tahu”

Tapi Yusuf menyimpulkan “Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh Dialah Yang Maha Mengetahui lg Maha Bijaksana”. Inilah akhirnya yang kita pelajari dari kisah ini bahwa iman pada takdir membuat kita menghadapi berbagai konspirasi dengan cara yg sangat berbeda.

Iman pada takdir membuat kita membaca konspirasi dengan mata hati, mencium dengan firasat, tapi bereaksi dengan sabar dan teguh. Penuh ilmu penuh iman. Sebab Allah punya tipu dayaNya sendiri. Sebab manusia tidak pernah tahu ujung cerita dari skenarioNya. Itu mengapa mrk mudah terjebak sendiri!

Kisah Nabi Yusuflah yang mengajarkan kita bagaimana sebuah konspirasi dengan keimanan pada takdir. Kita akan tampak lugu mungkin. Tapi tidak pada hakikatnya. Mungkin kita terlihat naif karena percaya takdir dalam menghadapi konspirasi. Tapi tidak! Ilmu kitalah yg berbeda dgn ilmu mereka. Sebab sumbernya juga beda!

“Sudah kucium bau Yusuf kalau saja kalian tidak akan menuduhku lemah akal”, kata Ya’qub menjelang pertemuan kembali seluruh keluarga itu. Yang tidak disadari para konspirator itu adalah bahwa sebenarnya mereka tidaklah mengendalikan permainan. Terlalu banyak yang tidak bisa mereka kendalikan.

Sumber : TL-nya @anismatta