Kultwit Takdir Dari Anis Matta (2)

Di ujung kelemahan kita selalu ada optimisme.

Kisah Nabi Yusuf bermula dari sumur dan penjara. Berujung di istana dan berkumpulnya keluarga. Sebuah skenario kehidupan yang sempurna. Tapi ujung cerita itu adalah pernyataan bahwa “Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut (dalam mencapai) apa yang Ia kehendaki”.

Membaca takdir Allah adalah upaya yang tak boleh berhenti untuk memahami kehendakNya. Belajarlah menitipkan kehendak kita dalam kehendakNya. Mempertemukan kehendak kita dengan kehendakNya itulah yang disebut tawfiq. Pertemuan yg menciptakan harmoni kehidupan. Damai dan tenang tiada henti.

Sebab jika Allah hendak menciptakan peristiwa dan memberlakukan kehendakNya, Ia menyiapkan semua sebab2nya dan terjadilah semua takdirNya. Berhasil membaca kehendakNya dalam hidup kita akan memberi kita ketenangan jiwa yang tak kan tergoyahkan oleh goncangan hidup apapun. Kita merasa lebih pasti.

Orang yang tidak beriman pada takdir selalu berada pada 2 kutub jiwa yg ekstrim. Merasa hina waktu lemah, sombong dan melampaui batas waktu kuat.

Waktu kalah dalam perang Uhud, Allah melarang kaum muslimin merasa lemah dan sedih. Mereka harus tetap merasa kuat, sebab ini belum berakhir. Kita jadi kuat di ujung kelemahan manusiawi kita karena kita percaya pada kekuatan Allah yang tidak terbatas. Di ujung kelemahan kita selalu ada optimisme.

Sumber : TL-nya @anismatta