Kultwit Karl May dari Goenawan Mohammad

Karl May, pencipta Winnetou, ternyata 100 tahun karyanya hadir di Indonesia. Selamat utk Penggerak Paguyuban Karl May, Pandu Ganesha.

Ternyata Bung Hatta dan Syahrir juga pembaca karya2 Karl May waktu mereka muda. Buku bacaan remaja yg dibaca luas di Eropa dan Indonesia.

Karya2 Karl May datang ke Indonesia via Belanda. Di awal 1950-an mulai diterjemahkan. Saya mengenalnya waktu SD dan SMP.

Karl May mengisahkan petualangan seorang Jerman (dia sendiri) ke daerah Barat AS dan bersahabat dgn bangsa Indian. Tokohnya: Winnetou.

Karl May juga berkisah ttg penjahat dan lawan2nya dlm petualangan ke daerah Arab, Kurdistan, Balkan.

Dgn petualangan fiktif itu, Karl May mempertemukan remaja Eropa dgn bangsa lain yg jauh. Meskipun ia sendiri tak pernah ke tempat2 itu.

Franz Magnis Suseno, pastur/filosof yg lahir dan besar di kota kecil dekat Dresden, Jerman, baca Karl May di umur 10.

Menurut Franz Magnis, dlm buku2 petualangannya ke daerah Timur, Karl May melukiskan bangsa Arab dgn simpatik. Ia terpengaruh kisah2 itu.

Dlm kisah2nya ttg bangsa Indian, ditampilkan tokoh Winnetou yg pendekar, ksatria, berbudi, meskipun hidup di wilayah yg penuh kekerasan.

Bagi generasi orang Indonesia yg hidup di bawah kolonialisme, tokoh Winnetou memikat: orang kulit berwarna yg luhur budi.

Karl May sebenarnya cuma meneruskan ide “noble savage” orang “buas” yg berbudi. Ini sdh lama ada dlm pemikiran Eropa.

Ide ttg “orang buas yg berbudi” (noble savage) itu muncul di awal sekali dlm esei Montaigne ttg orang2 “kanibal” di kalangan Indian Brazil.

Orang2 Indian itu, kata Montagne, tak lebih buruk ketimbang orang Eropa abad ke-16. Orang Eropa itu saling bantai krn perseteruan agama.

Tokoh Winnetou adalah pemunculan kembali ide “noble savage”. Tapi Karl May sebenarnya menunjukkan sikap mendua.

Karl May menampilkan wajah2 non-Eropa yg primitif tapi berhati emas, tapi ia tetap meletakkan nilai2 “peradaban” Eropa lebih luhur.

Nilai2 peradaban itu dasarnya Kristen. Old Shatterhand dan Kara ben Nemsi, tokoh “aku” fiksi petualangan itu, menolak utk membunuh.

Apa yg mendasari peradaban “Barat” jadi pusat acuan. Bahkan Eropa-sentris Karl May juga Jerman-sentris. Tokoh2″baik”-nya orang Jerman.

Tapi pada saat yg sama, dari perjalanannya ke Indonesia di awal abad ke-20 Karl May mengecam perang kolonial Belanda di Aceh.

Jasa Pandu Ganesha: menunjukkan bhw Karl May benar pernah ke Sum-Bar dan Aceh. Sementara ia blm pernah ke AS + dunia Arab yg dia kisahkan.

Maka sdh pantas Indonesia punya perhatian khusus thd Karl May. Dgn segala kekurangannya. Meskipun buku2nya bukan karya sastra yg dalam.

Sumer : Kultwit dari @gm_gm