Kultwit Hari Ibu dari Goenawan Mohammad

Selamat pagi. Selamat Hari Perempuan: “I took a deep breath and listened to the old bray of my heart. I am. I am. I am.” – Sylvia Plath

Mari kita ingat: 22-23 Desember 1928 adalah awal Kongres Perempuan Indonesia pertama. Perempuan. Bukan Ibu.

Perempuan belum tentu ibu. Perempuan tak hanya ibu. Perempuan adalah awal dari ibu.

Ada sebuah buku “Kongres Perempuan Pertama: Tinjauan Ulang” oleh Susan Blackburn. Terbitan Yayasan Obor & KITLV, 2007. Ada di Google Book.

22/23 – 25 Des. 1928: “Congres Perempoean Indonesia” bertempat di Djojodipuran, Mataram. Sekarang di Jl. Adisucipto, Yogya.

Pres. Sukarno menetapkan dgn Dekrit Presiden No.316 th. 1959 bhw 22 Desember “Hari Ibu” dan dirayakan secara nasional hingga kini.

Tampaknya Indonesia merasa perlu punya Mother’s Day spt negara2 lain. Tapi menurut hemat saya, kita punya sejarah yg lebih membanggakan.

Di AS, “Mother’s Day” mengikuti “proklamasi” Julia Ward th 1870: seruan perdamaian. Masih suara seorang diri. Beda dgn “Hari Perempuan”.

Dimulai dr AS, “Hari Ibu” di banyak negara, dgn sejarah ber-beda, jatuh di bulan Mei. Di AS, hari ini akhirnya jadi komersial: kado, kartu.

Di AS, hampir $ 3 milyar uang utk beli bunga. Kado, termasuk perhiasan, jadi komoditi laris.

Kita bisa pilih: 22 Desember akan jadi Hari Ibu yg ramai dgn kembang + kado, atau Hari Perempuan yg mengenang Kongres th 1928 itu.

Sebenarnya hari ini kita bisa peringati sekaligus sbg hari mengingat jasa ibu (juga single mothers) dan peran + hak perempuan.

Tapi memang di bawah “OrdeBaru”, kata “ibu” terkait dgn “istri”, atau dgn melihat perempuan hanya dlm fungsi melahirkan anak.

Bahkan di masa “Or-Ba” kata “ibu” jadi sebutan hierarkis yg terkait dgn birokrasi sipil + militer.

Di bawah “OrdeBaru” organisasi perempuan sbg gerakan yg mandiri dikekang, padahal gerakan itulah yg merintis kongres 22/23 Des 1928.

Gerakan perempuan yg hidup di zaman “demokrasi liberal” (1945-1958) tak ada lagi di masa rezim birokratik-militer Or-Ba.